Tips Membuat Karakter atau Tokoh Fiksi
Tokoh yang baik adalah tokoh yang berkembang dan tak melulu jalan di tempat . Setiap perannya memiliki keistimewaan masing-masing dalam sebuah kisah.

Tokoh karakter merupakan poin penting dalam menggarap sebuah cerita, baik itu berbentuk tulisan seperti novel, cerpen, fiksi penggemar, dan sebagainya, ataupun dalam bentuk sebuah film.
Tokoh adalah pemain, aktor, atau lakon yang berperan dalam sebuah cerita. Tokoh sendiri di bagi menjadi empat, yaitu Protagonis, Antagonis, Tritagonis, dan Figuran.
Bisa dikatakan tokoh akan hidup pada cerita yang baik, begitu pula sebaliknya cerita akan hidup dengan tokoh yang baik. Dengan demikian, sebelum membuat sebuah cerita fiksi, penulis terlebih dahulu harus merumuskan tokoh-tokoh seperti apa saja yang akan hadir membawakan kisah tersebut.
Tips untuk Membuat Karakter Fiksi
• Memiliki Premis Cerita
Premis secara sederhana dapat dikatakan ide pokok keseluruhan kisah dari awal sampai akhir menggunakan jumlah kalimat terbatas, premis berisi Protagonis, Tujuan Protagonis, dan Halangan/Tantangan.
Premis sendiri dapat membantu pembentukan dan penyesuaian karakter menjadi lebih mudah.
Contohnya:Tokoh ingin menjadi astronot dan pergi ke luar angkasa demi membuktikan bulan terbuat dari keju seperti yang dikatakan buku dongengnya. Namun, Tokoh adalah orang miskin yang sulit menggapai mimpinya, ditambah saudaranya melarang mimpi tersebut.
• Latar Belakang dan Identitas Tokoh/Karakter
Dari premis yang tersedia penulis dapat mengurai latar belakang seperti apa yang akan digunakan untuk Tokoh.
Misal, tokoh berasal dari keluarga miskin di kota A di negara B, akibat tragedi perang saudara yang terjadi di sana. Seorang yatim piatu yang diasuh kakaknya setelah orang tua mereka meninggal, dan seterusnya.
Selanjutnya penulis bisa membuat daftar identitas tentang tokoh, mulai dari nama, usia, jenis kelamin, agama, berat badan, tinggi badan, ras, sifat-sifat.
• Beri Kelebihan dan Kekurangan
Berpeganglah pada prinsip "Tidak ada manusia yang sempurna." Tokoh penulis pun seperti itu, beri ia kekurangan serta kelebihan supaya tokoh dapat berkembang, entah itu ke arah tokoh menjadi pribadi yang lebih baik atau ke arah di mana tokoh menjadi sangat buruk.
Hal ini akan berpengaruh pada alur cerita, apakah cerita akan membosankan karena perjalanan tokoh mulus-mulus saja tanpa mendapatkan tantangan, sebagai akibat efek memberikan kelebihan yang terlalu sempurna tanpa menyeimbangkannya dengan kekurangan. Cerita akan makin menggairahkan jika tokoh ditempa dengan konflik-konflik yang tercipta dari kekurangannya.
Misalkan tokoh Nina memiliki tubuh lemah, sakit-sakitan, dan kurang gizi. Namun, ia punya mental kuat dan tidak mudah putus asa.
• Beri Tokoh Motivasi
Motivasi dan tujuan akan membuat tokoh tetap bergerak meski dihalangi konflik-konflik yang ada. Berikan tokoh tujuan dan motivasi yang jelas. Perhatian pembaca bisa saja kabur jika tak mendapat gambaran tujuan tokoh yang itu-itu saja.
Misal, Nina sangat ingin mewujudkan mimpinya menjadi seorang astronot dan pergi ke bulan demi membuktikan dongeng. Akan tetapi karena ekonomi dan peperangan membuat tubuhnya lemah serta kekurangan gizi, pengetahuan Nina yang terbatas. ditambah sang kakak menentang keinginan tokoh lantaran hanya tokohlah satu-satunya keluarga sang kakak, dan itu makin mengubur mimpi Nina. Meski begitu Nina adalah anak keras kepala yang pantang putus asa, ia bersikeras mencari jalan keluar sendiri meski itu harus kabur ke negara lain.
• Keunikan, Ciri Khas, dan Suara Tokoh
Keunikan dan ciri khas tokoh dibuat untuk membedakan antara tokoh satu dengan lainnya. Hal ini agar tidak menimbulkan kebingungan pada pembaca yang sulit membedakan tokoh. Keunikan dan ciri khas bisa dari ciri fisik atau sifat-sifat yang keluar pada waktu-waktu tertentu.
Misal, Nina punya sembilan jari tangan karena jari kelingking tangan kirinya putus saat lahir. Ia punya langkah ringan, sering berpergian dengan mengendap-endap tak ingin dilihat orang, atau Nina bisa disebut unik karena ia punya kemampuan mengingat fotografi.
Selanjutnya suara. Tiap tokoh pastinya memiliki suara yang berbeda-beda, seperti aksen, logat, intonasi, dan irama. Suara tokoh anak kecil dan seorang pemuda pasti berbeda, apa itu meleking, berat, serak, cempreng, gagap, atau tidak jelas terdengar seperti tertahan, pun gaya bicaranya.
Misal Nina punya suara cempreng, tetapi pelan, ia sering sekali berbicara entah penting atau tidak, dan juga frontal. Berbeda dengan tokoh sang kakak yang keras, serak, tidak suka basa-basi, dan jarang bicara. Keduanya bisa menggunakan aksen Amerika atau Australia, atau Indonesia. Ini akan berpengaruh pada kata-kata yang keluar dari si tokoh.
Mau itu Protagonis, Antagonis, Tritagonis, maupun Figuran memiliki sifat, tujuan, motivasi, dan tantangannya. Walau tidak semua dibeberkan karena fokus akan bertumpu sebagian besar kepada si Protagonis dan porsi perannya pada cerita.
Kualitas tokoh dapat terlihat seiring berjalannya cerita melalui perkembangan-perkembangan dari konflik-konflik yang mereka hadapi. Bisa saja di pertengahan sifat awal tokoh sedikit mengalami guncangan, yang tadinya keras kepala menjadi sedikit lebih lunak dalam berpikir dan bertindak.